PUNCAK - Di tengah keheningan pegunungan Papua yang diselimuti kabut tebal, suara riang anak-anak mengeja huruf dan berhitung kini terdengar di Kampung Marilakuin, Distrik Wangbe, Kabupaten Puncak. Namun, suara itu bukan berasal dari guru sekolah biasa, melainkan para prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 732/Banau dari Pos Marilakuin. Mereka dengan gagah berani menukar peran, mengganti senjata dengan pena dan papan tulis sederhana untuk mencerahkan masa depan anak-anak negeri. Kamis (13/11/2025).
Dipimpin oleh Sertu Sugianto Fokaaya, inisiatif belajar mengajar ini menjadi mercusuar harapan di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah terpencil. Dengan kesabaran yang luar biasa, para prajurit membimbing anak-anak Papua dalam merangkai kata, membentuk huruf, hingga menguasai dasar-dasar berhitung. Di mata polos mereka, para tentara ini bukan sekadar penjaga perbatasan, melainkan 'pahlawan pena' yang menerangi jalan pengetahuan.
“Kami Bangun Perbatasan dengan Ilmu, Bukan Hanya Senjata”
Kapten Inf Frincen Sinaga, Danpos Marilakuin Satgas Yonif 732/Banau, mengungkapkan bahwa kegiatan mulia ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap minimnya tenaga pendidik di daerah pedalaman Papua.
“Kami yakin, perbatasan yang kuat tidak hanya dibangun dengan senjata, tetapi juga dengan kecerdasan. Mengajar adalah bagian dari pengabdian kami kepada anak-anak bangsa di ujung timur Indonesia, ” ujar Kapten Inf Frincen Sinaga dengan penuh keyakinan.
Ia menegaskan bahwa program pendidikan ini akan terus berjalan secara rutin, menegaskan komitmen tak tergoyahkan TNI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil.
“Anak-anak Kami Kini Semangat Sekolah Lagi”
Kehadiran para prajurit TNI di Kampung Marilakuin disambut dengan luapan sukacita oleh seluruh elemen masyarakat. Mama Tenie, salah seorang tokoh masyarakat setempat, tak mampu menahan haru melihat antusiasme anak-anaknya yang kembali bersemangat belajar.
“Kami sangat bersyukur. Selama ini anak-anak kami jarang belajar karena tidak ada guru tetap. Sekarang, dengan bantuan bapak-bapak TNI, anak-anak jadi semangat sekolah lagi. Kami merasa diperhatikan dan tidak dilupakan, ” tutur Mama Tenie dengan mata berkaca-kaca, haru meresap dalam setiap kata yang terucap.
Suasana sederhana yang tercipta di bawah tenda dan dengan papan tulis seadanya, seketika berubah menjadi ruang penuh semangat dan harapan baru bagi masa depan generasi muda Papua.
Pangkoops Habema: “TNI Membawa Obor Peradaban di Tanah Papua”
Menyikapi aksi humanis yang luar biasa ini, Panglima Komando Operasi (Koops) Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan adalah fondasi utama dalam mewujudkan Papua yang damai dan sejahtera.
“Prajurit di Papua tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga membawa obor peradaban. Ketika anak-anak Papua cerdas dan berpendidikan, masa depan NKRI di ujung timur akan bersinar. Itulah makna sejati pengabdian TNI, ” tegas Mayjen Lucky Avianto dengan lantang.
Ia menambahkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil oleh TNI di lapangan, termasuk upaya mengajar dan mendampingi masyarakat, merupakan bagian integral dari strategi besar untuk membangun Papua dari hati.
Cahaya dari Puncak, Asa untuk Nusantara
Di tengah kesunyian pegunungan, di balik dinding kayu sekolah yang sederhana, Satgas Yonif 732/Banau telah membuktikan bahwa tugas seorang prajurit melampaui sekadar menjaga garis pertahanan. Mereka adalah pelita yang menerangi anak-anak yang haus akan ilmu, serta penyambung cita-cita bagi generasi yang mendambakan masa depan yang lebih baik.
“Selama kami di sini, kami ingin mereka tahu bahwa Indonesia hadir untuk mereka — dalam bentuk kasih, ilmu, dan semangat belajar, ” ujar Sertu Sugianto Fokaaya dengan senyum tulus yang terpancar dari wajahnya.
Kisah pengabdian mereka menjadi bukti nyata: di tangan para prajurit Banau, senyum dan cita-cita anak-anak Papua kembali menyala, menembus kabut dingin Puncak, dan mengarungi perjalanan menuju masa depan yang lebih cerah dan gemilang bagi seluruh Nusantara.
(PERS)
