PUNCAK - Di tengah kesunyian pegunungan Papua, prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 732/Banau Pos Dangbet, Kampung Dangbet, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, telah menorehkan kisah pengabdian yang berbeda. Melalui program 'ROSITA' (Borong Hasil Tani), mereka tidak hanya menjaga garis pertahanan negara, tetapi juga membuka jalan bagi kesejahteraan ekonomi petani di kampung-kampung terpencil.
Dipimpin oleh Sertu Yusran, para prajurit turun langsung ke kebun warga, sebuah langkah yang menghadirkan warna baru di perbatasan. Mereka membeli hasil panen seperti sayur, buah, dan umbi-umbian dengan harga yang layak, tanpa sedikit pun upaya tawar-menawar. Hasil bumi ini kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan logistik pos, sementara uangnya langsung mengalir ke kantong para petani lokal.
“Program Rosita ini bukan tentang memberi, tapi tentang membeli dengan hati, ” ujar Danpos Dangbet, Kapten Inf Henry.
“Tujuannya sederhana tapi bermakna besar: membantu warga yang kesulitan menjual hasil panen karena akses pasar terbatas. Dengan kami membeli langsung, harga jadi stabil, pemasukan mereka pasti, dan ekonomi kampung bisa berputar, ” jelasnya.
Inisiatif yang sarat makna kemanusiaan ini segera membuahkan hasil manis. Petani kini tak perlu lagi menanggung beban biaya transportasi untuk menjangkau pasar yang jauh. Bapak Dalil, seorang petani dari Kampung Dangbet, merasakan perubahan signifikan dalam hidupnya.
“Dulu kami sering rugi karena hasil kebun tidak laku atau harga turun. Sekarang bapak-bapak TNI datang beli langsung, harganya bagus, tidak tawar-menawar. Kami sangat terbantu, bukan cuma uangnya, tapi juga perhatian mereka, ” tuturnya dengan raut wajah penuh syukur.
Program “Rosita” sejatinya adalah perwujudan nyata dari kemanunggalan TNI dengan rakyat, yang terjalin dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan. Di tengah keterbatasan yang ada, prajurit Banau berhasil meramu solusi cerdas yang memberdayakan masyarakat setempat.
Secara strategis, kegiatan ini selaras dengan visi Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, yang menekankan bahwa tugas TNI di Papua melampaui sekadar menjaga kedaulatan, melainkan juga menumbuhkan kesejahteraan.
“Kedaulatan di perbatasan tidak cukup diukur dari kekuatan senjata, tapi dari seberapa sejahtera rakyat yang tinggal di sana, ” tegas Mayjen Lucky.
“Program seperti Rosita adalah bukti nyata pendekatan humanis TNI. Dengan membeli hasil tani warga, kita memastikan dapur mereka tetap mengepul, dan hubungan TNI-rakyat semakin kuat, ” tambahnya.
Kini, Pos Dangbet Yonif 732/Banau bukan lagi sekadar pos pengamanan, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat denyut ekonomi bagi masyarakat kecil. Di tempat inilah, prajurit dan petani berdiri bahu-membahu, memupuk rasa saling percaya, dan bersama-sama mengukir masa depan yang lebih mandiri di jantung pedalaman Papua Tengah.
Melalui ‘Rosita’, para prajurit Banau telah membuktikan makna sejati dari sebuah pengabdian: menjaga batas negara sembari menyuburkan harapan di tanah paling ujung Indonesia. (jurnalis.id)
