PUNCAK - Di tengah keindahan alam pegunungan Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, sebuah inisiatif luar biasa tengah bergulir, menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (Satgas Pamtas RI-PNG) Yonif 732/Banau tak hanya mengemban tugas menjaga kedaulatan bangsa, tetapi juga merajut erat hubungan kemanusiaan melalui program inovatif bernama “Rosita” atau Borong Hasil Tani. Program ini menjelma menjadi jembatan harapan bagi para petani lokal yang selama ini berjuang keras menembus keterbatasan akses pasar.
Pada Kamis (13/11/2025), semangat kebersamaan terasa kental saat personel Pos Jampul di bawah komando Sertu Devretes turun langsung ke ladang dan menyambangi rumah-rumah warga di Kampung Jampul. Mereka dengan antusias membeli berbagai hasil bumi segar seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan umbi-umbian. Lebih dari sekadar transaksi jual beli, aksi ini merupakan wujud nyata kepedulian TNI dalam mengangkat harkat dan martabat para petani di wilayah terpencil.

Kondisi geografis yang menantang di Beoga acap kali menjadi kendala bagi masyarakat untuk memasarkan hasil pertanian mereka. Medan yang terjal dan biaya transportasi yang tinggi tak jarang membuat hasil panen terbuang sia-sia. Menyadari hal tersebut, prajurit Satgas Yonif 732/Banau berinisiatif untuk menjadi garda terdepan dalam memberikan solusi. Dengan memborong langsung hasil tani warga dengan harga yang layak, mereka membuka jalan bagi para petani untuk mendapatkan imbalan yang setimpal atas kerja keras mereka.
Danpos Jampul, Letda Inf Djemmy, menegaskan bahwa program “Rosita” telah menjadi agenda rutin yang mencerminkan dedikasi TNI untuk kesejahteraan rakyat. “Program *Rosita* ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bukti nyata kehadiran kami di tengah masyarakat. Kami ingin para petani merasakan bahwa jerih payah mereka dihargai. Selain membantu memenuhi kebutuhan logistik pos, yang terpenting adalah bagaimana ekonomi warga bisa terus berputar, ” ujar Letda Djemmy dengan nada mantap.
Beliau menambahkan, kegiatan semacam ini turut mempererat tali silaturahmi antara prajurit dan masyarakat. “Kami ingin TNI tidak hanya dikenal sebagai penjaga wilayah, tetapi juga sebagai sahabat rakyat yang senantiasa hadir membawa solusi dan harapan, ” imbuhnya penuh keyakinan.
Program ini disambut dengan tangan terbuka dan penuh rasa syukur oleh warga. Mama Neta, seorang tokoh masyarakat Kampung Jampul, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. “Selama ini kami sangat kesulitan menjual hasil kebun karena jarak yang jauh ke pasar dan biaya ojek yang tinggi. Syukurlah, sekarang bapak-bapak TNI datang langsung membeli di rumah kami. Kami bisa mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan anak-anak, dan hasil panen kami tidak lagi terbuang sia-sia, ” tuturnya dengan senyum merekah.
Mama Neta berharap inisiatif mulia ini dapat terus berlanjut, membuka cakrawala baru dan memberikan suntikan semangat bagi para petani lokal yang selama ini merasa terisolasi dari geliat ekonomi.
Program “Rosita” menjadi bukti nyata bahwa prajurit Yonif 732/Banau tidak hanya bertugas mengamankan perbatasan negara, tetapi juga turut membangun fondasi kemandirian ekonomi bagi masyarakat. Melalui pendekatan yang humanis dan mengedepankan nilai persaudaraan serta gotong royong, kehadiran TNI di Papua semakin terasa bermakna, menyatukan rasa aman dengan kesejahteraan yang hakiki.
Inisiatif seperti ini mempertegas pesan bahwa TNI hadir bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dicintai oleh rakyat. Di tangan para prajurit yang berjiwa rakyat, senjata menjelma menjadi senyum, patroli berubah menjadi pengabdian tulus, dan keamanan menyatu harmonis dengan kesejahteraan masyarakat.
(PERS)

Updates.