PUNCAK - Di tengah terjalnya akses dan jauhnya jangkauan pasar, personel Pos Dangbet Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–PNG Mobile 2025 Batalyon Infanteri 732/Banau hadir membawa solusi bagi warga Kampung Ambobera, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Melalui program inovatif bertajuk Rosita (Borong Hasil Tani), prajurit TNI yang dipimpin Sertu Baskara Wael berupaya membangkitkan denyut ekonomi lokal dengan membeli langsung hasil kebun dari para petani, khususnya para mama Papua, pada Rabu (26/11/2025).
Komoditas segar seperti sayuran, buah-buahan lokal, hingga umbi-umbian seperti keladi dan singkong, dibeli dengan harga yang setara dengan standar pasar. Pembelian ini tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi prajurit di Pos Ambobera, tetapi lebih dari itu, menjadi jembatan bagi warga untuk dapat menjual hasil jerih payah mereka.

Letda Inf Ronal Lumban Gaol, Komandan Pos Ambobera, menegaskan bahwa inisiatif ini memiliki makna strategis yang mendalam.
“Kegiatan Rosita ini memiliki nilai strategis untuk mendukung ekonomi warga. Kami hadir tidak hanya sebagai pengaman perbatasan, tetapi juga sebagai sahabat dan bagian dari keluarga yang peduli dengan kesejahteraan mereka, ” ujarnya, menyiratkan kepedulian yang lebih dari sekadar tugas militer.
Sambutan hangat dari warga terlihat jelas sejak pagi. Para mama Papua dengan antusias menyiapkan hasil kebun mereka dalam noken dan karung, yang kemudian ditimbang langsung di lapangan Pos Dangbet. Mama Tea, salah seorang warga, berbagi pengalamannya yang selama ini terkendala.
“Kalau kami bawa ke pasar, ongkosnya besar dan jalannya sulit. Dengan adanya bapak–bapak TNI yang datang langsung ke kampung untuk membeli, kami sangat terbantu. Harganya juga fair. Terima kasih banyak. Mudah–mudahan ini bisa terus berlanjut, ” ucapnya penuh harap sambil tersenyum.
Dampak positif program ini turut dirasakan oleh Kepala Kampung Ambobera, Marthen Kobogau (35). Ia melihat program ini bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan sebuah bentuk penghargaan bagi warganya.
“Kami melihat ini bukan hanya soal jual-beli, tapi rasa dihargai. Ini menambah pendapatan warga dan memperkuat rasa percaya bahwa TNI ada untuk rakyat, ” katanya kepada awak media, menyoroti aspek psikologis dan sosial dari kegiatan tersebut.
Lebih jauh, program borong hasil tani ini juga membawa perubahan positif dalam aspek gizi anak-anak di pedalaman. Sebagian masyarakat yang datang untuk memeriksakan kesehatan juga mendapatkan bahan pangan yang dibeli dari kebun warga itu sendiri, menciptakan siklus kebaikan yang saling menguntungkan.
Letda Ronal menambahkan bahwa pendekatan ini akan terus diimplementasikan hingga akhir masa tugas mereka.
“Jika kami bisa membantu lewat membeli bukan hanya memberi, itu lebih bermartabat. Ini tentang kehadiran negara yang menghidupkan, bukan sekadar menerangi, ” tandasnya, menegaskan filosofi di balik program yang menyentuh hati ini.
