PUNCAK - Minggu pagi di Kampung Mamere, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Pegunungan, pada (30/11/2025), menjadi saksi bisu kehangatan yang melampaui batas geografis dan tugas keamanan. Di halaman gereja yang diselimuti embun pegunungan, para prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 732/Banau Pos Jenggeren duduk berdampingan dengan warga, menyatukan doa, dan kemudian menyalurkan bantuan biskuit serta sembako. Momen ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan bukti nyata bahwa penjagaan perbatasan tak hanya soal operasi militer, namun juga tentang sentuhan sosial yang memanusiakan.
Kegiatan dimulai dengan Ibadah Minggu yang khidmat, dipimpin oleh Serda Jimmy, diikuti oleh seluruh personel pos dan jemaat setempat. Di tengah medan yang ekstrem dan dinamika penugasan yang tinggi, suasana ibadah terasa begitu damai.

Selepas ibadah, Satgas melanjutkan misi kemanusiaan dengan membagikan 15 paket sembako dan biskuit. Bantuan ini diprioritaskan untuk keluarga, para mama, dan anak-anak gereja, disiapkan dari donasi internal personel sebagai bagian dari program teritorial 'Sahabat Banau' yang rutin digelar di kampung-kampung binaan.
Kapten Inf Mahfud Supriadi, Komandan Pos, menjelaskan bahwa agenda ini lebih dari sekadar bakti sosial. Ia melihatnya sebagai strategi untuk menciptakan ketenteraman di kampung perbatasan.
“Kami ingin hadir bukan hanya ketika situasi membutuhkan patroli, tetapi juga ketika warga membutuhkan rasa kebersamaan. Ini bukan hanya soal sembako. Ini soal membangun ruang percaya. Saat warga merasa dekat, keamanan akan lebih kuat, karena kami saling menjaga, ” ujar Kapten Mahfud.
Ia menambahkan, Satgas berkomitmen menjaga keberlanjutan program layanan sosial selama masa tugas.
“Hari ini kami berdoa bersama, lalu berbagi. Besok kami kembali patroli dan mengajar di sekolah. Pola ini harus terus hidup, karena kehadiran negara harus terasa dalam denyut hidup warga, ” tegasnya.
Kobus Wanimbo (58), tokoh adat sekaligus *influencer* lokal Mamere, merasakan dampak positif langkah Satgas di tingkat kampung.
“Honai boleh sederhana, jalan boleh jauh, tapi yang buat kami percaya adalah konsistensi mereka datang. Mereka bicara baik, dengar kami, dan hormat adat kami. Itu yang buat kami tenang, ” ungkap Kobus.
Sementara itu, Bapak Tenis Murib (57), tokoh masyarakat yang aktif mendampingi pendidikan anak-anak di Mamere, menilai kegiatan ibadah dan bantuan adalah sinyal pemulihan rasa aman kolektif.
“Anak-anak jadi lihat bahwa mereka tidak sendiri. Torang doa sama-sama, mereka lihat TNI bukan jauh. Ada rasa pelindung baru. Itu efek yang besar bagi mental kampung, ” ujar Tenis Murib.
Di antara senyum haru para mama yang memeluk bantuan dan tawa riang anak-anak yang memamerkan biskuit, terjalin kehangatan yang melintasi batasan. Di tengah tantangan perbatasan yang kerap disalahpahami, momen di Mamere menegaskan bahwa keamanan sejati tumbuh dari kebersamaan, dan kepercayaan adalah benteng terkuat yang dijaga bersama rakyat.

Updates.