NDUGA - Di tengah gelegar pegunungan Nduga, Minggu (30/11/2025), Pos Mbua menjadi saksi bisu kehangatan yang meruntuhkan sekat. Bukan dentuman senjata yang terdengar, melainkan gelak tawa dan percakapan hangat saat prajurit Satgas Pamtas Mobile Yonif 400/Banteng Raiders berbagi meja makan dengan warga kampung. Momen sederhana ini menjadi bukti nyata bagaimana komunikasi sosial (Komsos) mampu menumbuhkan benteng kepercayaan di wilayah perbatasan yang penuh tantangan.
Kegiatan Komsos ini dihelat dengan dua pendekatan menyentuh: menyambangi rumah warga dari pintu ke pintu dan menggelar makan siang bersama di pos. Tujuannya jelas, yakni membaca denyut nadi kehidupan kampung secara langsung. Mulai dari isu keamanan yang krusial, geliat sosial yang dinamis, hingga kebutuhan dasar warga yang paling mendesak.
Tim liputan yang berada di lokasi merasakan langsung atmosfer diskusi yang begitu cair. Para prajurit dengan sabar menggali informasi mengenai kondisi panen, akses pendidikan yang kerap menjadi kendala, hingga persoalan kesehatan dasar yang dihadapi warga. Kepercayaan yang mulai terjalin membuat warga tak ragu membuka diri, menyampaikan setiap aspirasi dan keluh kesah mereka.
Berryn Gwijangge (54), seorang tokoh adat yang juga menjadi perwakilan masyarakat, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menilai kehadiran Satgas Pamtas memberikan ketenangan yang sangat berarti bagi masyarakat Distrik Mbua.
“TNI tidak datang bicara besar. Mereka datang ke dapur kami, duduk, makan sama-sama, dan dengar kami. Itu yang buat torang percaya, ” ujar Berryn.
Ia menambahkan, konsistensi pendekatan sosial yang dijalankan di tengah padatnya tugas operasi mobile, membuat hubungan antara aparat dan masyarakat kini terasa semakin erat dan organik.
“Kalau komunikasi hanya dari jauh, torang susah percaya. Tapi mereka hadir langsung, itu beda. Itu yang kami butuh di Mbua, ” tegasnya.
Kapten Inf Muslimin, Komandan Pos Mbua, menegaskan bahwa Komsos bukanlah sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian integral dari strategi teritorial yang berjalan seiring dengan misi utama menjaga keamanan.
“Kami bertugas menjaga perbatasan, tapi kami juga wajib menjaga rasa aman psikologis warga. Komsos ini bukan acara seremonial, tapi kanal komunikasi harian. Kami ingin warga tidak ragu menyampaikan masukan, karena keamanan Mbua bukan hanya tugas TNI, tapi tugas bersama, ” jelas Kapten Muslimin.
Perbincangan hangat itu berlanjut hingga sore hari, diiringi santapan bersama. Kapten Muslimin mengakui, pendekatan yang humanis ini terbukti sangat efektif dalam merawat sinergi di wilayah operasi mobile yang intens.
“Di medan seperti Nduga, senjata kami bukan hanya senapan, tapi juga empati dan konsistensi hadir, ” imbuhnya, menyiratkan kedalaman strategi yang dijalankan.
Di saat banyak narasi tentang wilayah perbatasan kerap diwarnai ketegangan, Komsos di Pos Mbua ini justru menegaskan sebuah realitas yang berbeda. Kedekatan sosial yang dibangun secara konsisten terbukti menjadi kunci stabilitas, yang pada akhirnya memperkuat keberhasilan tugas operasi militer di tanah Papua Pegunungan.
