INTAN JAYA - Di tengah keheningan pegunungan Intan Jaya, tepatnya di Gereja Santa Kalina Pogapa, Minggu (30/11/2025), suara lonceng gereja bergema, memanggil jemaat untuk berkumpul. Momen itu tak hanya menandai ibadah rutin, tetapi juga menjadi saksi bisu penyatuan hati antara personel Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti (JS) dengan masyarakat setempat. Kehadiran mereka, yang biasanya identik dengan kesiagaan bersenjata, kali ini terlihat berbeda. Para prajurit duduk berdampingan di bangku gereja, mengamini doa bersama, sembari menyebarkan pesan damai dan kedekatan tanpa sekat dengan rakyat.
Ibadah yang dipimpin oleh pelayan rohani setempat ini diikuti dengan khidmat oleh ratusan warga Kampung Pogapa, Distrik Homeyo. Suasana hikmat namun penuh kehangatan terasa kental. Tawa riang anak-anak yang meniru gerakan salam damai para prajurit, serta senyum para mama yang melihat seragam loreng dan pakaian Minggu berpadu di satu ruang, menjadi pemandangan yang mengharukan.

Letda Inf Runggu Asido Nainggolan, Perwira Pembinaan Mental (Bintal) Satgas Yonif 113/JS, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari pola pendekatan lunak yang terstruktur dalam operasi perbatasan.
“Tugas kami menjaga tapal batas. Tapi panggilan kami menjaga hati masyarakat. Hari Minggu, kami ingin mereka melihat bahwa perbatasan dijaga oleh saudara mereka sendiri, ” ungkap Letda Runggu kepada media usai ibadah.
Pandangan serupa diutarakan oleh Pastor Paroki Pogapa, Romo Yohanes Kwap. Beliau menilai kebersamaan ini mampu mengikis sekat antara aparat dan warga.
“Yang kami butuhkan di sini bukan hanya pos keamanan, tetapi rasa aman. Satgas datang tanpa wibawa yang menakutkan, tapi wibawa yang meneduhkan, ” ujar Romo Yohanes.
Usai ibadah, momen berbagi berkat pun terjadi. Paket roti segar dan gula-gula dibagikan kepada jemaat, dengan prioritas diberikan kepada warga lanjut usia dan anak-anak. Momen ini terasa begitu istimewa, menghadirkan senyum kebahagiaan di wajah mereka.
Ketua Jemaat Santa Kalina, Yansen Bagubau, dengan mata berkaca-kaca dan memegang bendera kecil di dadanya, menyampaikan testimoni yang menyentuh.
“Kami merasa disapa negara dan disapa Tuhan di waktu yang sama. Ini bukan bantuan besar, tapi hadirnya besar di hati kami, ” tuturnya.
Dampak positif kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh anak-anak Pogapa. Safira Dendegau, salah seorang mama jemaat, mengungkapkan, “Anak-anak pulang dari gereja bukan hanya bawa doa, tapi bawa senyum. Mereka merasa dilihat dan dihargai.”
Satgas Yonif 113/Jaya Sakti menegaskan bahwa program ibadah dan berbagi logistik kecil ini akan dilaksanakan secara rutin ke kampung-kampung di sekitar area operasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat strategi teritorial demi menjaga keamanan yang erat kaitannya dengan kepercayaan rakyat.

Updates.