PUNCAK - Pasar Tradisional Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, mendadak bergemuruh pada Sabtu pagi (29/11/2025). Bukan karena lonjakan harga, melainkan kehadiran puluhan prajurit Pos Komando Taktis (Kotis) Sinak Satgas Yonif 142/Ksatria Jaya yang tak hanya membeli, tetapi benar-benar memborong seluruh hasil tani warga. Lapak-lapak pedagang seketika menjadi lengang dalam hitungan menit.
Aksi ekonomi kerakyatan ini adalah bagian dari program inovatif “Ksatrata” (Ksatria Borong Hasil Tani Rakyat). Inisiatif ini digagas Satgas Yonif 142/Ksatria Jaya tidak hanya demi mempererat jalinan sosial antara TNI dan masyarakat, tetapi juga secara strategis menyasar perputaran ekonomi di pedalaman Pegunungan Tengah Papua yang kerap terkendala akses distribusi.
Danpos Kotis Sinak, Kapten Inf Redha J. K., menegaskan komitmen satgas untuk lebih dari sekadar penjaga keamanan. Ia memandang pentingnya kehadiran TNI sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat.
“Kami ingin hadir sebagai keluarga bagi masyarakat. Setiap hasil tani di sini adalah keringat dan harapan mereka. Sudah menjadi tugas moral kami untuk memastikan jerih payah itu bernilai, ” ujar Kapten Redha, Sabtu (29/11/2025).
Lebih lanjut, Kapten Redha menjelaskan upaya edukasi yang terus digalakkan kepada prajurit. Mereka didorong untuk berbelanja langsung di pasar tradisional secara berkala. Tujuannya jelas: memotong rantai tengkulak yang seringkali memberatkan petani, sekaligus memberikan kepastian pendapatan yang lebih baik bagi petani lokal.
Kegiatan serupa, menurutnya, telah menjadi rutinitas mingguan selama beberapa bulan terakhir dan menunjukkan dampak positif yang nyata. Para pedagang, yang mayoritas adalah perempuan asli Papua, kini mulai memiliki keberanian untuk meningkatkan volume panen mereka, didukung oleh jaminan serapan pasar yang lebih pasti.
Maria Wonda (48), seorang pedagang sayur, mengungkapkan rasa syukurnya. Hasil buminya ludes terjual tanpa perlu berlama-lama menunggu di bawah dinginnya udara pagi pegunungan. Ia merasakan perbedaan yang signifikan.
“Biasanya kami pulang sore baru habis, itu pun kadang masih sisa. Tapi hari ini, cepat sekali. Kami senang, kami merasa dihargai. Ini bukan soal jualan saja, tapi kami diperlakukan seperti keluarga, ” katanya dengan mata berkaca-kaca, merasakan kehangatan perhatian yang diberikan.
Yonas Murib (39), petani ubi jalar, turut merasakan manfaat pendekatan TNI melalui pembelian langsung ini. Baginya, ini menjadi motivasi kuat bagi warga untuk terus menjaga lahan produktif mereka, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan keamanan dan geografis.
“Kami merasa aman berkebun. Kalau hasil kebun laku, anak-anak kami bisa sekolah. Terima kasih TNI, terima kasih Ksatria Jaya, ” tutur Yonas dengan penuh harap.
Tak hanya melakukan pembelian, para prajurit juga memberikan dukungan logistik. Mereka secara sukarela membantu mengangkut barang dagangan warga yang datang dari kampung-kampung terpencil menuju pasar, memanfaatkan kendaraan dinas TNI. Bantuan ini kian memperkuat kepercayaan publik terhadap peran satgas di wilayah penugasan.
Dr. Alpius Karoba, seorang pengamat pertahanan dari Universitas Cenderawasih, menilai langkah ini sebagai model operasi teritorial yang sangat relevan dan efektif untuk konteks Papua.
“Strategi teritorial di Papua harus adaptif. Sentuhan ekonomi langsung seperti ini efektif karena menyerap hasil tani sekaligus membangun legitimasi sosial TNI di mata warga, ” ujarnya saat dikonfirmasi.
Di tengah suhu dingin yang menusuk tulang di Pegunungan Tengah, program Ksatrata ini berhasil mengukuhkan citra TNI. Bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra ekonomi yang peduli terhadap kesejahteraan rakyat. Misi militer ini menjelma menjadi cerita humanisme yang menyentuh di garis terdepan Indonesia.
