PUNCAK - Di tengah belantara pegunungan Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, yang terpencil, langkah-langkah prajurit TNI kini bukan lagi sekadar menjaga kedaulatan, melainkan membawa denyut kehidupan melalui program kemanusiaan bertajuk "Pastoor" atau Pelayanan Kesehatan Door to Door. Inisiatif mulia dari Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 732/Banau ini menjelma menjadi jembatan harapan, mengetuk pintu-pintu warga pedalaman dengan niat tulus mengobati dan menyembuhkan.
Pada Kamis (13/11/2025), tim medis Pos Beoga yang dikomandoi Pratu Atang, dengan peralatan medis seadanya namun berbekal semangat pengabdian yang membara, menyusuri setiap sudut Kampung Beoga. Mereka hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai penolong, memeriksa kesehatan warga, mendistribusikan obat-obatan esensial, serta memberikan edukasi vital mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat.

Kepedihan akan minimnya akses kesehatan di Beoga menjadi akar lahirnya program ini. Jarak antar kampung yang membentang luas dan medan yang tak kenal ampun kerap memaksa warga menahan derita tanpa sentuhan medis. Kapten Inf Budi, Danpos Beoga, dengan tegas menyatakan bahwa "Pastoor" adalah cerminan tanggung jawab moral TNI terhadap masyarakat.
"Jarak yang jauh dan medan berat tidak boleh menjadi alasan bagi warga untuk kehilangan hak mereka atas kesehatan. Karena itu, kami tidak menunggu pasien datang, tetapi kami yang mendatangi mereka. Kami ingin kehadiran TNI benar-benar dirasakan, bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga kehidupan, " ujar Kapten Budi.
Lebih jauh, Kapten Budi menambahkan bahwa selain pengobatan kuratif, tim medis juga secara proaktif memberikan penyuluhan kesehatan preventif. Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat agar mampu menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah timbulnya penyakit sejak dini.
Sambutan hangat dari warga menjadi bukti betapa program "Pastoor" ini menyentuh relung hati. Mama Anunai, salah seorang warga Kampung Beoga, tak kuasa menahan haru.
"Kami di sini jarang bisa ke dokter. Jalannya jauh, biaya juga susah. Tapi sekarang bapak-bapak TNI datang langsung ke rumah, periksa dan kasih obat gratis. Rasanya seperti beban kami diangkat. Terima kasih banyak, " tutur Mama Anunai, matanya berkaca-kaca.
Ungkapan sederhana namun penuh makna dari Mama Anunai ini menggarisbawahi bahwa "Pastoor" tidak hanya menyembuhkan luka fisik, tetapi juga merajut kembali semangat dan harapan di hati masyarakat pedalaman yang seringkali terabaikan.
Melalui "Pastoor", Satgas Yonif 732/Banau menegaskan kembali peran TNI sebagai penjaga kemanusiaan, bukan semata-mata pelindung kedaulatan negara. Program ini menjadi tali pengikat kepercayaan dan kasih sayang antara prajurit dengan rakyat, menciptakan sinergi yang saling menguatkan di tengah keterbatasan.
Di wilayah yang sulit dijangkau oleh layanan medis konvensional, prajurit Banau menjelma menjadi "pastor kesehatan", hadir bukan dengan khotbah, melainkan dengan langkah kaki yang membawa obat, senyum hangat, dan secercah harapan baru bagi kehidupan warga Beoga.
(PERS)
