PAPUA - Suara keras datang dari internal kelompok yang selama ini dikenal vokal terhadap isu Papua. Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melalui juru bicaranya, Ogram Wanimbo, secara terbuka mengecam tindakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XV Ngalum Kupel, yang diketahui menyimpan serta menggunakan bahan peledak rakitan untuk menyerang fasilitas umum dan pemukiman masyarakat.
Dalam keterangan resminya kepada media lokal, Kamis (23/10/2025), Ogram menyebut aksi tersebut bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga penghianatan terhadap nilai kemanusiaan dan perjuangan itu sendiri.
“Penggunaan bom untuk menghancurkan fasilitas masyarakat adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter nasional. Mereka telah keluar dari batas moral perjuangan dan menjadikan rakyat sebagai korban. Ini bukan perjuangan, ini penderitaan, ” tegas Ogram Wanimbo.
Pernyataan keras KNPB ini muncul setelah aparat keamanan menemukan bukti kuat keterlibatan kelompok OPM Kodap XV Ngalum Kupel dalam perakitan bahan peledak yang digunakan untuk menyerang bangunan publik di wilayah Pegunungan Bintang. Beberapa rumah warga, fasilitas pendidikan, dan tempat ibadah dilaporkan rusak berat akibat ledakan.
Aksi brutal itu menimbulkan kecaman luas dari berbagai elemen masyarakat Papua. Tokoh masyarakat Wamena, Yonas Tabuni, menyebut langkah KNPB yang menegur OPM sebagai sinyal positif bahwa rakyat Papua mulai jenuh terhadap kekerasan.
“Rakyat Papua ingin hidup damai. Kalau sesama orang Papua saling menghancurkan, siapa yang akan membangun negeri ini? Kami tidak mau lagi dengar suara bom di kampung. Yang kami rindukan hanyalah suara anak-anak tertawa di sekolah, ” ungkap Yonas Tabuni penuh harap.
Kecaman dari KNPB ini menjadi momentum penting yang menandai perubahan arah dalam wacana perjuangan Papua. Suara dari dalam sendiri kini menuntut penghentian kekerasan dan menegaskan bahwa cara-cara destruktif tidak akan pernah membawa kedamaian.
Para tokoh masyarakat berharap, pernyataan KNPB ini dapat menggugah kelompok-kelompok bersenjata lain untuk meninggalkan jalur kekerasan dan memilih dialog yang bermartabat demi masa depan Tanah Papua.
“Saatnya kembali ke hati nurani. Papua tidak butuh bom Papua butuh harapan, ” tutup Ogram dalam pernyataannya.
(Kapten Inf MN/AG)

Updates.