LANNY JAYA - Di tengah dinginnya udara pegunungan Lanny Jaya, Papua, lapangan voli berlumpur di Kampung Wunabunggu pada Rabu (26/11/2025) seketika berubah menjadi panggung kehangatan. Satgas Yonif 408/Suhbrastha (SBH) tak hanya hadir sebagai penjaga, namun larut dalam gelak tawa bersama warga setempat melakoni pertandingan voli yang sederhana namun penuh makna. Sorak-sorai riuh menggantikan formalitas, tepukan tangan meriah mengiringi setiap poin yang tercipta, menciptakan simfoni kebersamaan di bawah langit Papua yang membentang luas.
Anak-anak kecil tak mau ketinggalan, berdiri antusias di pinggir lapangan, bersorak kegirangan setiap kali bola melayang. Para pemuda desa pun saling menyemangati, menunjukkan semangat sportivitas yang mendalam di setiap servis yang dilancarkan.
“Walaupun lapangannya berlumpur, kami semua gembira. Satgas datang bukan hanya menjaga, tapi mau tertawa dan bermain bersama kami, ” ungkap Delvinus Kiwo, salah seorang warga Wunabunggu, di sela-sela pertandingan, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Kehangatan yang sama turut menyelimuti para prajurit. Seragam loreng yang biasanya menjadi penanda profesionalisme, kini menjelma simbol persaudaraan yang turun ke lapangan tanpa sekat, melebur bersama masyarakat.
Kapten Inf Hendri, Komandan Pos Wunabunggu, menjelaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar olahraga rutin. Ia melihatnya sebagai strategi sosial yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan.
“Voli ini bagi kami adalah jembatan. Di sini kami membangun kepercayaan, menumbuhkan sportivitas, dan memperkuat hubungan persaudaraan. Kami hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi untuk menghadirkan damai dan senyum di tengah masyarakat Wunabunggu, ” tegas Kapten Hendri.
Ia menambahkan, di tengah intensitas penugasan di wilayah pegunungan yang seringkali membatasi interaksi, pendekatan melalui olahraga justru membuka ruang komunikasi yang cair dan tanpa beban.
Pratu Riyan Saputra, salah satu personel Satgas, berbagi pengalamannya yang tak terlupakan.
“Baru di sini saya merasa benar-benar bermain dari hati. Warga sambut kami seperti keluarga sendiri. Itu yang bikin kami makin semangat menjalankan tugas, ” tuturnya, merasakan kedekatan yang mendalam.
Satgas Yonif 408/Sbh menegaskan kembali komitmennya kepada masyarakat Papua, bahwa kehadiran TNI merupakan dedikasi tulus yang lahir dari rasa pengabdian, bukan bentuk dominasi.
“Masyarakat di sini bukan sekadar warga binaan, tetapi saudara yang kami jaga dengan sepenuh jiwa, ” pungkas Kapten Hendri, menggarisbawahi ikatan batin yang telah terjalin.
Lapangan yang jauh dari kemewahan fasilitas olahraga perkotaan itu justru menjadi saksi bisu keindahan kebersamaan. Bola voli sederhana dan tanah berlumpur menjadi latar, membuktikan bahwa kerukunan sejati lahir dari keinginan untuk saling merangkul, bukan dari kemegahan semata.
Kini, lapangan itu bukan sekadar arena pertandingan, melainkan tempat di mana hati disematkan, kepercayaan dirawat, dan tawa dirayakan bersama, merajut kisah persaudaraan antara prajurit dan warga di ujung timur Indonesia.

Updates.