INTAN JAYA - Di Kampung Bilai, Distrik Homeyo, Intan Jaya, Papua Tengah, sebuah pemandangan luar biasa menghidupkan semangat kebersamaan. Prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti (JS) dan masyarakat setempat bahu-membahu memperbaiki landasan bandara yang krusial bagi kehidupan mereka, Selasa (25/11/2025). Aksi swadaya ini menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong yang kian langka di daerah terpencil.
Sejak fajar menyingsing, alunan cangkul dan sekop beradu, disusul suara keranjang yang diangkat penuh semangat. Wajah-wajah lelah namun penuh optimisme terpancar dari setiap individu yang terlibat. Bagi warga Bilai, landasan bandara ini bukan sekadar jalur pacu pesawat, melainkan urat nadi yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, membuka pintu bagi pelayanan kesehatan, pasokan logistik vital, hingga geliat aktivitas ekonomi.

Perbaikan yang diprakarsai atas dasar kebutuhan mendesak masyarakat ini, diakui Komandan TK/Pos Bilai, Kapten Inf Rustamiadi, sebagai wujud nyata komitmen Satgas dalam menghadirkan solusi. Ia mengungkapkan, kolaborasi ini mencerminkan sinergi kuat antara TNI dan rakyat.
“Bandara bagi masyarakat Bilai adalah akses utama. Karena itu, kami bersama warga sepakat untuk memperbaikinya secara swadaya. Gotong royong seperti ini menunjukkan bahwa TNI dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling menguatkan, ” ujar Kapten Inf Rustamiadi.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan perwujudan dari operasi teritorial humanis yang senantiasa diusung oleh Satgas Mobile 113/JS dalam setiap penugasannya.
Bagi Kepala Kampung Bilai, Marthen Kobogau, upaya kolektif ini menghadirkan secercah harapan baru bagi komunitasnya. Ia tak henti-hentinya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian para prajurit.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran Satgas. Landasan bandara adalah urat nadi kami. Kalau baik, kami bisa lebih mudah belanja kebutuhan, mengantar orang sakit, dan mempercepat kegiatan ekonomi, ” tutur Marthen Kobogau.
Semangat membara terlihat jelas dari warga yang tak kenal lelah, bahkan sebagian dari mereka tak ragu membawa material dari rumah masing-masing. Keyakinan mereka tertanam kuat: sedikit usaha hari ini akan berbuah manis bagi masa depan generasi mendatang.
Perbaikan landasan bandara ini melampaui sekadar pembangunan fisik; ini adalah tentang menyambung kembali harapan masyarakat pedalaman. Di kampung dengan akses terbatas, bandara kecil seperti ini memegang peranan vital dalam menentukan kecepatan tibanya bantuan. Sinergi antara TNI dan masyarakat Bilai menjadi bukti nyata bahwa kemajuan seringkali lahir dari kemauan bersama, bukan semata-mata menunggu anggaran besar.
