PAPUA - Kematian tragis Brigjen Lamek Alipky Taplo, salah satu pimpinan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XV Ngalum Kupel, memunculkan gelombang reaksi di kalangan masyarakat Papua. Lamek dilaporkan tewas bersama tiga orang anggotanya akibat ledakan bom rakitan yang disimpan di dalam markas mereka.
Namun, publik dikejutkan oleh pernyataan kontroversial dari juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, yang menyebut kematian Lamek Taplo sebagai “mati konyol” akibat ketidaktahuan dalam penggunaan bahan peledak.
Dalam sebuah rekaman suara yang beredar di media sosial, Sebby terdengar menuding Lamek ceroboh dan tidak memiliki kemampuan teknis dalam merakit maupun mengoperasikan bom.
“Dia bukan ahli bom. Itu sebabnya dia mati bersama orang-orangnya. Ini pelajaran agar anggota lain jangan sembarangan main bahan peledak, ” ujar Sebby dalam rekaman yang viral pada Minggu (26/10/2025).
Pernyataan tersebut memicu kecaman luas dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan pemerhati perdamaian Papua. Mereka menilai ucapan Sebby tidak hanya menyinggung keluarga korban, tetapi juga memperlihatkan keretakan serius di tubuh OPM yang selama ini diklaim memperjuangkan kemerdekaan.
Tokoh masyarakat Pegunungan Bintang, Yonas Matuan, menilai komentar Sebby sebagai bukti nyata bahwa perjuangan OPM telah kehilangan arah dan nilai kemanusiaan.
“Kalau mereka benar pejuang, seharusnya saling menghormati, bukan saling menghina. Sekarang mereka saling tuding dan saling jatuhkan. Itu menandakan bahwa OPM sudah tidak solid, ” tegas Yonas kepada wartawan, Senin (27/10/2025).
Menurut Yonas, kematian Lamek Taplo juga membuka mata banyak pihak bahwa tindakan kekerasan dan penggunaan senjata justru memperburuk keadaan di Papua. Ia menegaskan bahwa perjuangan sejati seharusnya dilakukan dengan jalan damai dan dialog, bukan melalui ancaman dan pertumpahan darah.
“Bom itu tidak membawa kemerdekaan, malah memakan korban dari mereka sendiri. Ini saatnya masyarakat Papua sadar, bahwa jalan kekerasan hanya menimbulkan penderitaan, ” pungkasnya.
Tragedi yang menewaskan Lamek Taplo menjadi cerminan rapuhnya struktur dan moral di tubuh OPM. Di tengah klaim perjuangan bersenjata, kelompok itu kini justru dihadapkan pada konflik internal dan kehilangan kepercayaan dari masyarakat Papua sendiri.
(Apkam/AG)

Updates.