NDUGA - Di tengah keagungan pegunungan Nduga, Papua Tengah, sebuah karya monumental yang memadukan iman dan semangat persatuan hampir terselesaikan. Patung Yesus Kristus yang dibangun oleh Satgas Yonif 733/Masariku kini memasuki tahap akhir, menjadi penanda harapan baru dan simbol kedamaian bagi masyarakat setempat.
Proses pemolesan dan pelapisan plamir berlangsung khidmat pada Selasa (11/11/2025), melibatkan prajurit TNI bahu-membahu dengan warga. Setiap sapuan alat di permukaan patung seolah merefleksikan doa dan harapan mendalam untuk tanah Papua.
“Kami ingin memastikan hasil pekerjaan ini tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga indah dipandang. Ini adalah simbol iman dan kebersamaan masyarakat Nduga yang harus dikerjakan dengan hati, ” ujar Dansatgas Yonif 733/Masariku, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, di lokasi pembangunan.
Tahap finishing ini krusial sebelum pengecatan akhir dan pemasangan detail patung. Ketelitian menjadi kunci agar mahakarya ini mampu bertahan menghadapi tantangan alam Nduga yang ekstrem, sekaligus kokoh berdiri sebagai monumen perdamaian.
Lebih dari sekadar proyek fisik, kegiatan ini menjadi jembatan hati antara aparat dan warga. Petrus Wanimbo (45), warga Kampung Kenyam, tak kuasa menahan haru saat berbagi cerita.
“Kami sangat bersyukur. Patung ini bukan hanya milik gereja, tapi milik seluruh masyarakat Nduga. Dengan adanya bapak-bapak TNI yang bantu sampai selesai, kami merasa diperhatikan dan semakin yakin bahwa kedamaian itu bisa kita bangun bersama, ” katanya dengan suara bergetar.
Patung Yesus ini digagas menjadi destinasi wisata rohani, sekaligus lambang kasih dan perdamaian bagi seluruh umat di Nduga. Keberadaannya diharapkan mampu menumbuhkan spiritualitas masyarakat dan menggali potensi pariwisata religi di wilayah tersebut.
Letkol Julius menegaskan komitmen Satgas Yonif 733/Masariku yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai pelayan masyarakat.
“Kami datang bukan hanya membawa senjata, tapi juga membawa kasih. Ini adalah bagian dari misi kami untuk membangun Papua melalui karya nyata dan cinta kasih kepada sesama, ” pungkasnya.
Di setiap goresan plamir dan sapuan cat, terlukis makna mendalam: iman yang tak tergoyahkan, harapan yang terus membara, dan persaudaraan yang semakin erat tumbuh di bumi Cenderawasih. (jurnalis.id)
