PUNCAK - Di jantung keheningan pegunungan Papua Tengah, di tanah terjal Kampung Dangbet, Kabupaten Puncak, sebuah inisiatif luar biasa menyalakan api harapan. Prajurit Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 732/Banau Pos Dangbet tak hanya mengemban tugas menjaga kedaulatan negara, tetapi juga merajut masa depan anak-anak Papua melalui pendidikan. Markas sederhana mereka kini bertransformasi menjadi ruang kelas penuh makna, tempat di mana ilmu pengetahuan dan kasih sayang berpadu.
Pagi itu, Selasa (11/11/2025), suasana di Pos Dangbet begitu hangat. Belasan anak Papua dengan mata berbinar duduk khidmat, buku-buku usang di pangkuan mereka. Di bawah bimbingan Sertu Yusran dan rekan-rekannya, mereka belajar merangkai huruf menjadi kata, membuka pintu menuju dunia Bahasa Indonesia yang lebih luas. Tak ada pemisah antara seragam loreng dan semangat belajar; yang ada hanyalah kebersamaan yang tulus.
“Kami percaya pendidikan adalah jembatan emas menuju masa depan, ” ujar Kapten Inf Henry, Komandan Pos Dangbet Satgas Yonif 732/Banau. “Melalui pembelajaran sederhana ini, kami ingin anak-anak merasa dekat dengan bangsa ini. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka juga bagian dari Indonesia yang besar dari Sabang sampai Merauke.”
Program literasi ini merupakan perwujudan nyata dari kegiatan teritorial Satgas Banau, yang memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia selain menjaga keamanan wilayah. Para prajurit bertindak sebagai guru sukarela, menciptakan lingkungan belajar yang akrab dan menyenangkan di tengah keterbatasan fasilitas.
Kehadiran para prajurit TNI di Kampung Dangbet disambut haru oleh warga. Bapak Meteo, salah seorang tokoh masyarakat setempat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Anak-anak di sini memang butuh bimbingan. Kehadiran bapak-bapak TNI sangat berarti bagi kami. Mereka tidak hanya menjaga kami dari ancaman, tapi juga membantu anak-anak belajar membaca dan menulis. Ini bentuk kasih yang tak ternilai, ” ujarnya penuh bangga.
Dari barak yang disulap menjadi kelas darurat, alunan suara anak-anak yang mengeja huruf-huruf dasar terdengar merdu, bagai melodi kemerdekaan yang menggema di tengah keterisolasian. Setiap huruf yang terucap, setiap goresan pensil di kertas, adalah bukti nyata bahwa semangat mencerdaskan bangsa tak mengenal batas geografis.
Aksi mulia ini mendapat apresiasi tinggi dari Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto. Ia melihat langkah Satgas Banau di Dangbet sebagai implementasi soft power TNI yang sangat efektif.
“Tugas TNI di Papua bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga menyalakan harapan. Keamanan tidak akan ada tanpa kesejahteraan, dan kesejahteraan takkan tumbuh tanpa pendidikan, ” tegas Mayjen Lucky.
“Setiap huruf yang diajarkan prajurit adalah senjata melawan kebodohan. Setiap buku yang dibuka adalah cahaya masa depan Indonesia. Senyum anak-anak Papua yang kini bisa membaca adalah kemenangan terbesar kami, ” imbuhnya, menyiratkan kebanggaan mendalam atas dedikasi para prajuritnya.
Kegiatan literasi yang digagas Satgas Yonif 732/Banau ini menjadi testimoni bahwa perjuangan TNI tidak hanya di medan tempur, tetapi juga di garis depan kemanusiaan. Di ujung negeri, di bawah langit Puncak yang senyap, para prajurit TNI mengajarkan bahwa cinta terhadap bangsa dapat bersemi dari selembar huruf dan seulas senyum tulus anak-anak Papua. (jurnalis.id)

Updates.