MAYBRAT - Di tengah bentangan alam Perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini, prajurit TNI Angkatan Laut tak hanya hadir sebagai penjaga kedaulatan, melainkan juga sebagai tangan yang mengulurkan kasih. Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 10 Marinir/SBY pada Kamis (1/1/2026) kemarin membuktikan komitmen itu dengan menyemai kehangatan di Kampung Susumuk, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
Sebuah aksi sosial sederhana, namun sarat makna, dihelat di kampung yang berjarak dari hiruk pikuk kota. Ratusan potong baju layak pakai dibagikan kepada warga, mulai dari anak-anak yang riang berlarian hingga para orang tua yang menyambut dengan senyum tulus. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam loreng, tersemat hati yang peduli pada sesama, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan akses logistik yang terbatas.
Komandan Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 10 Marinir/SBY, Letkol Marinir Aris Moko, menegaskan bahwa kehadiran prajurit bukanlah sekadar menjalankan tugas penjagaan. Lebih dari itu, ia ingin memastikan setiap langkah mereka membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat.
“Kami tidak hanya bertugas menjaga wilayah perbatasan, tetapi juga ingin memastikan kehadiran prajurit membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Bantuan ini mungkin sederhana, namun kami berharap dapat meringankan kebutuhan warga dan mempererat tali persaudaraan, ” ujar Letkol Marinir Aris Moko.
Senyum merekah dan ucapan syukur tak henti mengalir dari bibir warga Kampung Susumuk. Salah seorang ibu rumah tangga, Mama Yuliana, tak kuasa menahan haru saat menerima bantuan yang diserahkan langsung oleh para marinir.
“Kami sangat bersyukur, apalagi anak-anak bisa mendapatkan baju yang masih bagus. Terima kasih banyak kepada bapak-bapak Marinir yang sudah peduli kepada kami. Semoga Tuhan memberkati semua prajurit, ” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Melalui jejak kepedulian di Kampung Susumuk, Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 10 Marinir/SBY kembali menorehkan cerita tentang bagaimana peran prajurit di perbatasan melampaui batas tugas militer. Mereka hadir sebagai saudara, membawa empati dan semangat kemanusiaan yang menghangatkan hati masyarakat Papua.
