Bakar Batu: Jembatan Perdamaian Satgas Yonif 712/WT dan Warga Bulapa

    Bakar Batu: Jembatan Perdamaian Satgas Yonif 712/WT dan Warga Bulapa

    INTAN JAYA - Di tengah keheningan Pegunungan Tengah Papua, Kampung Bulapa, Distrik Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, menjadi saksi bisu momen haru pada Rabu (24/12/2025). Tradisi sakral Bakar Batu tak lagi hanya ritual adat, melainkan menjadi simbol pertautan erat antara prajurit TNI dari Satgas Yonif 712/Wiratama (WT) dengan sanubari masyarakat Papua. Udara dingin tak mampu mendinginkan semangat kebersamaan yang membuncah, merajut persaudaraan, dan memanjatkan doa untuk kedamaian.

    Sejak mentari pagi menyingsing, irama kerja sama menggema. Prajurit TNI, dengan seragam loreng yang membaur bersama noken para mama Papua, tak canggung mengangkat batu kali dan kayu bakar. Tangan-tangan gagah bergotong royong bersama para pemuda kampung, sementara para mama dengan cekatan menyiapkan ubi, sayur-mayur, dan daging segar untuk dimasak. Sebuah lubang tanah yang dilapisi dedaunan menjadi panggung utama, tempat harmoni alam dan manusia terjalin.

    Komandan TK Bulapa, Lettu Inf Dhedy, mengungkapkan esensi kehadiran prajuritnya dalam tradisi yang sarat makna ini.

    “Kami hadir bukan hanya untuk menjalankan tugas pengamanan, tetapi untuk menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bulapa. Melalui Bakar Batu ini, kami duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan merasakan kebersamaan yang tulus, ” kata Lettu Inf Dhedy.

    Prosesi adat pun bergulir khidmat. Ketika batu-batu panas diselimuti dedaunan dan uap mulai mengepul, langit seolah turut meresapi doa-doa yang dipanjatkan. Permohonan untuk kedamaian, keselamatan, dan masa depan Papua yang lebih cerah mengalun tulus. Air mata haru tak terbendung saat tokoh agama dan adat menyaksikan prajurit TNI dengan sukarela turut bekerja, berkeringat, dan menyatu dalam warisan leluhur.

    Kehadiran para tokoh penting turut memperkaya momen ini. Pendeta Herman Kobogau, Pendeta Musa Kobogau, Kepala Suku Yunus Kobogau, serta tokoh masyarakat Yusuf Kobogau, tak henti-hentinya mengapresiasi keterlibatan langsung Satgas Yonif 712/WT. Kehangatan persaudaraan terasa begitu nyata.

    Joel Kobogau, Tokoh Agama Kampung Bulapa, dengan tulus menyampaikan pandangannya mengenai kehadiran Tentara Nasional Indonesia di tengah kehidupan masyarakatnya.

    “TNI adalah anak-anak kami. Hari ini kita makan bersama, besok dan seterusnya kita jaga tanah ini bersama-sama. Semoga Tuhan selalu memberkati kebersamaan ini, ” ujar Joel Kobogau.

    Puncak kebahagiaan dirayakan ketika hidangan tersaji merata. Prajurit dan warga duduk melingkar di atas hamparan daun, berbagi cerita, tawa, dan canda. Di sudut terpencil seperti Ugimba, momen sederhana ini menjadi oase penyejuk hati dan penguat rasa saling percaya.

    Tradisi Bakar Batu di Bulapa membuktikan bahwa sentuhan budaya dan empati kemanusiaan adalah kunci utama dalam merajut stabilitas dan kedamaian. Meski asap dari perapian perlahan menghilang, nilai persaudaraan dan rasa aman yang terjalin antara Satgas Yonif 712/WT dan masyarakat Bulapa diyakini akan terus membekas, mengukuhkan ikatan abadi antara TNI dan rakyat di jantung Papua Tengah.

    (Wartamiliter)

    bakarbatupapua yonif712wiratama tnihumanis papuatengahdamai kemanunggalantnirakyat intanjaya
    Jurnalis Agung

    Jurnalis Agung

    Artikel Sebelumnya

    Hangatnya Nataru di Perbatasan: Marinir...

    Artikel Berikutnya

    Kasih Natal di Ilaga: TNI dan Warga Bersinergi...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Satgas Yonif 712/WT Tebar Kebersamaan di Hitadipa, Papua Tengah
    Satgas Yonif 408/Sbh dan Warga Nenggeagin: Kemanunggalan di Tengah Kedamaian
    Satgas TNI Hadirkan Harapan Medis di Pedalaman Papua
    Api Honai Hangatkan Lanny Jaya, TNI Jamin Keamanan Tumbupur
    Satgas TNI Semai Asa Pendidikan Papua di Pedalaman Nduga

    Ikuti Kami