NDUGA - Di jantung tanah Nduga yang kaya akan budaya, sebuah ritual leluhur kembali menghidupkan semangat kebersamaan. Minggu sore (22/2/2026), masyarakat Distrik Dal, Kabupaten Nduga, menyelenggarakan tradisi bakar batu yang sakral. Lebih dari sekadar upacara adat, momen ini menjadi ajang perekat persaudaraan yang melibatkan sekitar 250 warga setempat bersama kehadiran personel Satgas Batalyon Infanteri 200 yang sedang mengemban tugas pengamanan.
Bakar batu, sebuah kearifan lokal masyarakat Papua, bukan sekadar cara memasak. Ia adalah simbol rasa syukur, kehangatan kekeluargaan, dan penguat tali persaudaraan yang telah terjalin turun-temurun. Dengan batu-batu yang dipanaskan hingga berpijar, bahan makanan seperti daging dan umbi-umbian diolah bersama, menciptakan hidangan istimewa yang dinikmati seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran prajurit TNI dari Pos Dal, di bawah komando Lettu Inf Epsan Rajaguguk, disambut dengan tangan terbuka oleh Kepala Suku Mainus dan seluruh warga. Para prajurit tidak hanya menjadi penonton, namun turut berbaur, membantu setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan tradisi bakar batu. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedekatan emosional yang dibangun antara TNI dan masyarakat.
Sebagai bentuk nyata dukungan dan kepedulian, Satgas turut memberikan bantuan berupa sembako, termasuk 10 kilogram beras, satu dandang mi bihun, serta kopi yang semakin menambah semarak suasana. Interaksi yang terjalin begitu cair, mencerminkan pendekatan humanis yang menjadi ciri khas personel TNI dalam menjalankan tugas di wilayah ini.
“Kami hadir untuk menghormati dan menghargai tradisi masyarakat Dal. Momentum seperti ini penting untuk memperkuat silaturahmi, sehingga hubungan TNI dan warga semakin solid, ” ujar Lettu Inf Epsan Rajaguguk, menekankan pentingnya kehadiran prajurit dalam kegiatan adat sebagai bagian integral dari upaya mempererat hubungan, tanpa mengesampingkan tugas pokok pengamanan wilayah.
Ia menambahkan, meski larut dalam kehangatan tradisi, personel tetap menjalankan tugas pengamanan dengan cermat di sekitar lokasi acara demi kelancaran dan ketertiban jalannya seluruh rangkaian kegiatan.
Kepala Suku Mainus tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas partisipasi aktif TNI. “Kami senang bapak-bapak TNI mau hadir dan ikut bersama kami. Ini bentuk kebersamaan yang kami hargai, ” tuturnya dengan tulus.
Dalam momen kebersamaan tersebut, terlihat sikap toleransi dan profesionalisme prajurit yang luar biasa. Personel TNI yang beragama non-muslim dengan antusias menikmati hidangan yang disajikan, sementara personel muslim tetap fokus pada tanggung jawab pengamanan. Perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan, mencerminkan harmoni di tengah keberagaman adat dan budaya Papua.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi yang kian memperkokoh kemanunggalan TNI dengan rakyat. Di tengah kompleksitas geografis dan dinamika keamanan yang kerap mewarnai wilayah Nduga, pendekatan budaya seperti inilah yang terbukti efektif menjaga keharmonisan sosial, tanpa sedikit pun mengurangi kewaspadaan dalam menjalankan tugas negara.
